BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konseling merupakan serangkaian kegiatan yang memberikan
bantuan dari seorang yang mengalami masalah tertentu. Dalam pelaksanaan
konseling langkah yang digunakan tidak selalu sama, melainkan sesuai dengan
permasalahan yang dibahas dalam proses konseling itu sendiri. Oleh karena itu,
dalam makalah singkat ini penulis menyajikan salah satu model konseling yang
dapat digunakan dalm pelayanan konseling, yaitu model koseling dengan
pendekatan analisis transaksional. Yang dapat dipraktekan dalam menghadapi
klien yang mengalami permasalahan-permasalahan transaksi antar individu
B. Rumusan Masalah
Topik
yang ingin dibahas dalam makalah ini adalah
1. Apa
itu konseling analisis transaksional?
2. Kepribadian
manusia dilihat dari segi transaksi?
3. Bentuk-bentuk
transaksi?
4. Tujuan
konseling analisis transaksional?
5. Kekuatan
dan kelemahan konseling transaksional?
C. Tujuan Dan Manfaat
Makalah ini ditulis untuk
melihat fdan menggambarkan bentuk konseling transaksional ini. Dan dapat
dimanfaatkan oleh para pembaca sebagai bahan ajaran dan pertimbangan dalam
penerapan model konseling yang dibahas dalam makalah ini.
BAB
II
KONSELING
ANALISIS TRANSAKSIONAL (KONSTRAN)
A.
Pengantar
Konseling Analisis Transaksional
Kata
transaksi asalah proses pertukaran. Dalam komunikasipun dikenal transaksi, dan
yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis
transaksional (AT) sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses
transaksi, siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang
dipertukarkan.
Eric Berne
dalam bukunya yang berjudul Games People Play, sebagaimana yang dikutip Thomas
A.Harris, mendefinisikan transaksi sebaga hubungan sosial. Jika dua orang atau lebih
saling bertemu, cepat atau lambat salah seorang dari mereka akan berbicara,
atau memberikan beberapa indikasi lain yang mengakui kehadiran orang lain itu.
Ini disebut stimulus transaksional. Orang lain tersebut kemudian akan berkata
atau melakukan sesuatu yang sedikit banyak ada hubungannya dengan stimulus itu,
dan ini disebut tanggapan transaksional.
Jadi
Analisis transaksional (AT) merupakan salah satu pendekatan psikoterapi yang
menekankan pada hubungan interaksional dan dapat digunakan untuk terapi
individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. AT ini berbeda dengan
sebagian besar terapi lain karena merupakan suatu terapi kontraktual dan
desisional, artinya melibatkan kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan
jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses terapi, dan berfokus pada
putusan-putusan yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk
membuat putusan-putusan baru.
AT
menekankan aspek-aspek kognitif, rasional dan behavioral tentang kepribadian
serta berorientasi pada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat
keputusan-keputusan dan rencana baru bagi kehidupannya. AT terdiri dari teori
pengorganisasian kepribadian yang diterapkan melalui proses analisis
struktural, serta dilengkapi dengan interaksi manusia yang tergambar dalam
wacana analisis transaksional. Dalam hal ini manusia diyakini sanggup melampaui
pengkondisian dan pemprogaman awal. Itu artinya AT mempercayai kesanggupan
individu untuk tampil di luar pola-pola kebiasaan dan menyeleksi tujuan-tujuan
dan tingkah laku yang baru. Meskipun demikian, menurut Berne, hanya sedikit
orang yang sampai pada kesadaran akan perlunya menjadi otonom karena “manusia
dilahirkan bebas, tetapi salah satu hal yang paling pertama dipelajarinya
adalah berbuat sebagaimana diperintahkan, dan manusia menghabiskan sisa
hidupnya dengan berbuat seperti itu”. Hal ini disebabkan adanya ego orang tua
(akan dibahas lebih mendalam selanjutnya) yang ada dalam diri setiap manusia
masing-masing.
B.
Pandangan
Tentang Manusia
Teori ini berpandangan bahwa manusia
dapat ditingkatkan, dikembangkan dan diubah secara langsung melalui proses yang
aman, menggairahkan dan bahkan menyenangkan. Secara keseluruhan dasar filosofis
analisis transaksional bermula dari asumsi bahwa semuanya OK, artinya bahwa
setiap individu perilakunya mempunyai dasar menyenangkan dan mempunyai potensi
serta keinginan untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri. Dalam berhubungan
dengan orang lain, sikap yang menunjukkan sangat perhatian dan mengayomi lawan
bicaranya, mengundang individu lain untuk senang, dan saling mengisi, didalam
dasar teori dan praktek analisis transaksional disebut I’m OK and you’re OK.
Teori analisis transaksional mendasarkan pada decisional model, artinya setiap
individu belajar perilaku yang spesifik dan memutuskan rencana hidupnya dalam
menghadapi hidup dan kehidupannya. Meskipun sewaktu masa kanak-kanak
dipengaruhi oleh orang tuanya atau orang lain akan tetapi individu memutuskan
sesuatunya secara khas.
C.
Struktur
Kepribadian
Sumber dari tingkah laku seseorang individu datang dari
bagaimana individu tersebut mengolah informasi dan reaksi yang diberikannya,
yang disebut Ego States atau status ego (Dewa Ketut Sukardi. 1984:207).
Status ego ini terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang membekas pada
dirinya sejak masih kecil. Pengalaman tersebut dapat berwujud pendapat,
pandangan sikap, perilaku baik dari orang tuanya, orang dewasa dan orang-orang
lain ataupun tokoh-tokoh yang dianggap penting sewaktu masa kanak-kanak dan
pengalaman-pengalaman tersebut betul-betul melekat pada dirinya.
1) Status
Ego Anak
Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika
masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak.
Jika individu melakukan, berperasaan, bersikap seperti yang individu lakukan
pada waktu masih kecil, maka individu tersebut dalam status ego anak. Setiap
individu akan mempunyai pengalaman dan masa kanak-kanak yang berbeda-beda, maka
status ego anak untuk setiap individu akan berbeda. Status ego anak dapat
dilihat dalam dua bentuk, yaitu:
- Anak yang
menyesuaikan atau adapted child (AC)
Anak yang menyesuaikan diwujudkan dengan tingkah laku yang dipengarui oleh
orang tuanya. Hal ini dapat menyebabkan anak bertindak sesuai dengan keinginan
orang tuanya seperti penurut, sopan dan patuh, sebagai akibatnya anak akan
menarik diri, takut, manja, mengeluh, dan kemungkinan mengalami konflik.
- Anak yang
wajar atau natural child (NC)
Anak yang wajar akan terlihat dalam tingkah lakunya seperti lucu,
tergantung, menuntut, sikap ingin tahu, egois, agresi, kritis, spontan, tidak
mau kalah, kreatif, dan pemberontak.
2) Status
Ego Dewasa
Jika individu bertingkah laku secara rasional, melakukan testing terhadap
realita, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa.
Pengalaman-pengalaman belajar yang didapatkan antara individu yang satu dengan
yang lain berbeda, mengakibatkan status ego dewasa juga berbeda.
Menurut Berne karakter ego ini ada didalam diri setiap orang yang tercermin
dalam sikap yang umumnya pragmatis dan realitas. Mengambil kesimpulan,
keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau
menunjukkan fakta-fakta, bersifat rasional dan tidak emosional, bersifat
objektif dan sebagainya.
3) Status Ego Orang Tua
Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu,
maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dikatakan dalam status ego orang
tua. Oleh karena setiap individu mempunyai pengalaman pendidikan, sikap,
pandangan dan pendapat yang khs dari kedua orang tuanya, maka setiap individu
akan berbeda status ego orang tuanya.
Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola
tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan
bertingkah laku terhadap dirinya. Ada dua bentuk sikap orang tua, yaitu:
- Orang tua
yang mengkritik-merugikan atau critical parent (CP)
Ditunjukkan
dengan sikap yang selalu menuduh, mencela, suka menghardik, membentuk,
menghukum, berprasangka dan suka melarang.
- Orang tua
yang sayang atau nurturing parent (NP).
Merupakan suatu sikap yang positif, misalnya menasihati orang lain, memberi
semangat, memberikan pertimbangan, menerima, memberikan rasa aman, menghargai,
penuh perhatian, memberikan hiburan, membantu, melindungi, mendorong untuk
berbuat baik.
Ketiga sikap ego state ibarat rekaman yang selalu diputar-putar bagai
piringan hitam dan terus bernyanyi berulang-ulang di saat dikehendaki dan
dimungkinkan. Karenanya sering kita berkata : si A sangat dewasa; si B
kekanak-kanakan; atau si C sok tua, mengajari/menggurui.
D.
Motivasi
Hidup
Dalam penddekatan analisis transaksional dikenal istilah
stroke, stroke merupakan bentuk perhatian. Menurut Eric Berne stroke dibedakan
menjadi dua yaitu stroke positif dan strike negatif.
a. Stroke
positiv
Merupakan segala bentuk
perhatian yang secara langsung memperkuat motivasi dan kegairahan dalam hidup
yang diperoleh seseorang dalam awal hidupnya, misalanya; belaian, ciuman,
senyuman, tepepukan,elusan dan sebagainya. Selanjutnya stroke mengalami
perubahan serta adanya perpaduan dengan rasio, misalnya bentuk piagam yang
diperoleh. Bentuk stroke ini membuat seseorang merasa dihargai dan
diperhatikan.
b. Stroke
negatif
Merupakan suatu bentuk
stroke yang menunjukan pandangan yang mengecewakan atau menyesali, pukulan,
tamparan yang secara fisik, kata-kata kasar, mengkritik, sikap acuh tak acuh,
menghiba, membalas dan sebagainya. Dan suatu perhatian negatif yang bersifat
lebih formal adalah surat peringatan, nilai merah pada raport, dan sebagainya.
Stroke yang negatif ini pada umumnya membuat orang merasa tidak dihargai, tidak
berarti, tidak bernilai dalam hidup dan memungkinkan timbulnya sikap yang
defensife untuk mempertahankan diri pada seseorang.
E.
Jenis-Jenis
Transaksi
Dalam analisis transaksional, ada tiga macam transaksi
yaitu transaaksi komplementer (searah),
crossed (silang) dan transaksi urterior (terselubung)
1. Transaksi
searah
Dalam transaksi ini terjadi
secara kontinyu stimulus-respon-stimulus dan seterusnya, sehingga dapat
memunculkan sustu maslah karena setiap pelakunya terikat pada satu peran
tertentu. Transaksi ini biasanya terjadi antara dua status ego yang berpasangan
dalam situasi keadaan yang tepat.
2. Transaksi
silang
Transaksi ini muncul apabila
respon terhadap suatu stimulus tidak seperti yang diharapkan. Transaksi ini
cenderung tidak produktif karena seringkali pembicaraan terputus ditengah
jalan.
3. Transaksi
terselubung
Transaksi ini terjadi jika antara dua status ego
beroperasi bersama-sama dan ada campuran beberapa sikap di antara kedua pribadi
sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi
ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si
penerima. Biasanya dapat dirasakan -meliputi sikap dewasa di arahkan ke dewasa,
akan tetapi menyembunyikan suatu pesan yang sebenarnya.
F.
Perkembangan
Kepribadian Yang Sehat
Dalam
pandangan teori ini keribadian individu yang sehat adalah sebagai berikut;
a.
Memiliki posisi
kehidupan I’M ok – You ‘re OK
Yaitu berpandangan
positif terhadap diri sendiri dan orang lain serta memiliki kepercayaan diri
yang tinggi
b.
Status ego berfungsi
secara tepat
Mampu memfungsikan
ketga status secara tepat dan sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi
G.
Perkembangan
Kepribadian Abnormal
Kepribadian
yang dipandang tidak normal menurut teori ini adalah sebagai berikut;
a.
Posisi kehidupan I’am
not OK – You ‘re OK
Individu yang merasa tidak terpenuhi kebutuhannya dan
merasa bersalah. Posisi ini merupakan posisi yang paling umum yang biasa
disebut depresif. Individu merasa bersalah, inferior, depresi, ketidakpercayaan
dan rasa takut.
b.
Posisi kehidupan I’am
OK – You ‘re not OK
Yaitu individu yang membutuhkan orang lain akan tetapi
tidak ada yang dianggap cocok, individu merasa superior, merasa mempunyai hak
untuk mempergunakan orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya.
c.
Posisi kehidupan I’am
not OK – You ‘re not OK
yaitu
individu yang merasa dirinya merasa tidak baik dan orang lain pun juga tidak
baik, karena tidak ada sumber belaian yang positif, individu akan menyerah dan
merasa tidak berdaya.
d.
Kontaminasi
status ego
Yaitu individu tidak jelas batasan antara status ego
yang domilikinya. Status ego yang muncul ketika bertransaksi dengan keadaan
tertentu tidak jelas.
e.
Eksklusi
(batas status ego yang kaku)
Yaitu individu yang kemunculan status egonya tersebut
hanya cenderung pada satu status ego saja, walaw dalam kondisi yang
berbeda-beda.
H.
Tujuan
Dan Proses Konseling
Menurut Eric Berne 1966 (Dewa Ketut Sukardi 1984:223),
mengemukakan empat tujuan yang ingin dicapai dalam konseling analisis transaksional, yaitu:
1. Konselor
membantu klien yang mengalami kontaminasi status ego yang berlebihan.
2. Konselor
membantumengembangkan kapasitas diri klien dalam menggunakan semua status
egonya yang cocok, mencakup memperoleh kebebasan dan kemampuan yang dapat
ditembus diantara status egonya.
3. Konselor
berusaha membantu klien dalam mengembangkan seluruh status ego dewasanya.
Penembangan ini pada hakikatnya adalah menetapkan pikiran dan penalaran
individu, untuk itu individu membutuhkan kemampuan serta kapasitas yang optimal
dalam mengatur hidupnya sendiri.
4. Konselor
membantu klien dalam membebaskan dirinya dari posisi hidup yang kurang cocok
serta menggantinya dengan rencana hidup yang baru yang lebih produktif.
I.
Teknik-Teknnk
Konseling
Dalam penerapan konseling analisis transaksional, hal
yang pertama dilakukan konselor adalah membut suatu kontrak dengan klien.
Kontrak ini sebagai suatu usaha klien untuk mengadakan proses konseling
analisis transaksional.
Dursi
& Steiner : 1971 (dewa ketut sukardi:1984), menyatakan syarat yang harus
dipenuhi dalam kontrak, diantaranya:
a. Konselor
dan klien harus memulai transaksi dewasa-dewasa, serta ada kesepakatan dalam
menentukan tujuan yang ingin dicapai.
b. Kontrak
harus mempertimbangkan hal berikut:
1. Konselor
memberikan layanan pada klien secara profesional
2. Klien
memberikan imbalan jasa pada konselor
dan menanda tangani serta menjalani isi kontrak.
c. Kontrak
sebagai suatu kompetensi antara konselor dengan klien. Konselor harus memiliki
kecakapan untuk membantu klien dan klien harus cukup umur dan matang untuk
memasuki suatu kontrak.
d. Tujuan
kontrak harus sesuai dengan kode etik konseling
Teknik
pelaksanaan konseling
Pelaksanaan teknik konseling analisis transaksional,
dilakukan dalam beberapa tahap diantaranya; tahap struktural, analisis
transaksional, analisis naskah, dan analisis mainan.
(a) Analisis
struktural
Pada
lankah ini konselor berupaya menganalisis struktur kepribadian yang sesuai
dengan ketiga status ego yang telah dikemukakan sebelumnya. Semua status ego
adalah kondisi psikis yang normal, setiap status ego memiliki kekhasannya
masing-masing. Pada status ego anak terdapat intuisi, kreatifitas, dan
kegembiraan, pada status ego sewasa diperlukan untuk kelangsungan hidup
sedanmgkan pada status ego orang tua bermanfaat dalam mendidik, memberi
petunjuk, dan pengarah.
Jadi ketiga status ego penting dalam kehidupan seseorang ,
jika salah satu saja yang terganggu maka perlu penataan agar kehidupan lebih
seimbang dan sehat, karena tidak kelengkapan ststus ego hidup akan
membosankan,menjenuhkan dan tidak menggairahkan.
Tahap
ini merupakan proses pendekatan konseling analisis transaksional yang
ditekankan pada pengembangan pemahaman klien untukmengikat transaksi yang
normal.
(b) Analisis
transaksional
Bagaimana
cara mengetahui sikap ego yang dimiliki setiap orang? Berne mengajukan empat
cara, yaitu :
1. Melihat tingkah laku nonverbal maupun verbal yang
digunakannya. Di samping nonverbal ada verbal, misalnya pilihan kata, umumnya
tingkah laku melalui komunikasi verbal dan nonverbal muncul sekaligus
bersama-sama.
2. Mengamati bagaimana sikap seseorang ketika bergaul
dengan orang lain. Dominasi satu sikap dapat dilihat kalau A sangat menggurui
orang lain maka A sangat dikuasai oleh sikap orangtua dalam hal ini critical
parent. Si B suka ngambek maka B dikuasai oleh sikap anak. Si C suka bertanya
dan mencari fakta-fakta atau latar belakang suatu kejadian maka ia dikuasai
oleh sikap dewasa.
3. Mengingat kembali keadaan dirinya sewaktu masih
kecil; hal demikian dapat terlihat misalnya dalam ungkapan: buah jatuh tidak
jauh dari pohonnya. Cara berbicara, gerak-gerik nonverbal mengikuti cara yang
dilakukan ayah dan ibunya yang anda kenal.
4. Mengecek perasaan diri sendiri, perasaan setiap
orang muncul pada konteks, tempat tertentu yang sangat mempengaruhi apakah
lebih banyak sikap orang tua, dewasa, ataupun anak-anak sangat menguasai
mempengaruhi seorang.
(c) Analisis
permainan
Game
menurut eric berne merupakan suatu
rangkaian transaksi terselubung yang berulang menuju pada hasil psikologis yang
nyata yang telah dapat diduga sebelumnya.
Tiga
unsur penting dalam suatu game,
diantaranya:
1.
Transaksi yang berjalan seperti biasa dan
wajar
2.
Dalam transaksi ada maksud yang terselubung /
tersirat
3.
Adanya imbalan
Peranan
konselor dalam analisa mainan, apabila klien benar-benar bermotivasi untuk
memperbaiki sikap, sifat maupun kebiasan yang perlu diperbaiki dan membutuhkan
bantuan konselor.
(d) Analisis
naskah
Analisa naskah terjadi sejak dalam asuhan
orang tua, pada masa ini terjadi transaksi antara orang tua dengan
anak-anaknya. Dan pada akhirnya terbentuk suatu tujuan hidup dan rencana hidup
(script atau naskah)
J.
Kekuataan
Dan Kelemahan Konseling Analisis Transaksional
1.
Kekuatan
konseling analisis transaksional
Konseling
transaksional dapat dipergunakan apabila konselor menguasai beberapa permainan
yang dipakai dalam analisis transaksional. Konselor harus mampu menganalisa
jenis transaksi dalam berkomunikasi dan menganalisa jenis permainan yang
dimainkan oleh konseli untuk menetahui jenis ego yang dipakai konseli dalam bertransaksi. Berarti
konselorharus menguasai teknik dan metode yang dipakai dalam konseling transaksional.
Suasana konseling terasa menyenangkan apabila konselor dan
klien benar-benar menghayati jalanya proses konseling dan fokus pada tujuan
konseling yang sesungguhnya.
Dari segi pendekatan dan
teknik, konseling ini mempunyai kelebihan dalam metode kontrak, metode ini
membantu konseli untuk memikul tanggung jawab pribadi terhadap hasil-hasil
koseling.
Kelebihan lain dari pendekatan ini adalah penentangan terhadap
konseli untuk menyadari putusan dini yang dibuatnya semenjak kecil. Karena
sebagian besar manusia menyembunyikan putusan-putusan dini mengenai nilai diri
sendiri dan kekuatan pribadi, mereka
gagal mencapai kesepakatan dengan kekuatan pribadinya karena mereka lekat pada
pesan-pesan orang tua yang terus diulangnya dalam memorinya, hal inilah yang
menyebabkan individu berada dalam keterbelengguan emosional.
2. Kelemahan konseling analisis
transaksional
Dalam
konseling ini konselor dituntut untuk lebih aktif mengungkap permasalahan konseli,
masalah yang mungkin muncul adalah konseli menutup-nutupi masalah, bersikap
tertutup dan tidak jujur. Sehingga tujuan konseling tidak akan tercapai
Dari
segi pendekatan, analisis transaksional lebih berorientasi pada aspek kognisi,
apabila konselor tidak berhati-hati maka konselor akan terjebak pada
praktek-praktek yang mengabaikan emosional.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Konseling analisis transaksional merupakan
model konseling yang mengarah hubungan interaksional. Jadi permasalah yang dibahas
dalam model konseling ini adalah masalah yang muncul dalam proses transaksi antar individu, atau
individu dalam kelompoknya.
Setiap individu memiliki status ego yang
berkembang sesuai situasi lingkungan yang dilalui oleh masing-masing individu tersebut yaitu:
Ø Status
ego anak
Ø Status
ego dewasa, dan
Ø Status
ego orang ua
Bentuk-bentuk
trabsaksi:
1. Transaki
searah
2. Transaksi
silang, dan
3. Transaksi
terselubung
B.
Saran
Bentuk
terapi konseling yang dibahas dalam makalh singkat ini dapatdigunakan untuk terapi
klien yang mengalami permasalah dalam proses transaksi. Dalam penerapan model
konseling ini hendaknya konselor memiliki keahlian dan kerampilan yang
benar-benar sesuai dan profesional pada bidangnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alex
Sobur.2003. Psikologi Umum. Bandung:
Pustaka Setia
Dewa
Ketut Sukardi.1984.Pengantar Teori
Konseling. Jakarta:Ghalia Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar