BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar adalah proses yang sangat penting dalam pendidikan, karena melalui proses belajarlah tujuanpendidikan dapat dicapai. Dalam psoses belajar diharapkan hasilnya yaitu terkuasainya ilmu-ilmu yang diajarkan kepada siswa, sehingga pengembangan diri dan kemampuan siswa dapat dicapai dengan baik.
Dalam kegitan belajar ini semua siswa mendapat kesempatan dan hak yang sama atas materi pelajaran yang diberikan oleh guru, namun pada kenyataannya pemahaman yang diperoleh siswa tetap saja berdeda-beda walaupun pemberian dan penyampaian materi pelajran yang dilakukan oleh guru dilakukan secara bersamaan terhadap siswa. Hal itu, dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa yang bervariasi bahkan ada siswa yang mendapat nilai yang sangat rendah dan jauh dibawah rata-rata. Permasalahan ini timbul karena adanya faktor tertentu yang menghalangi dan mengganggu kegiatan belajar siswa. Faktor tersebutb berupa kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan yang dimiliki oleh siswa dan tentunya faktor tersebut berbeda-beda untuk masing-masing siswa, sesuai dengan keadaan dan kondisi keunikan dari individu siswa itu sendiri.
Agar pencapaian hasil belajar siswa maksimal dan pengembangan diri siswa juga dapat terwujud dengan baik, guru dan pembimbing perlu memahami dan mendalami masalah yang dialami sisiwa yang dibimbingnya agar guru dapatmemberi pelayanan dan pengajaran yang tepat dan maksimal terhadap sisiwanya, sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai dengan baik.
Untuk itu, perlu diadakan suatu kegiatan yang berupaya untuk mengentaskan masalah yang menghalangi proses belajar sisiwa. Pada kesempatan ini kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan diagnosis kesulitan belajar siswa dan upaya pengajaran perbaikan terhadap materi yang kurang dipahami oleh siswa sebelumnya.
B. Tujuan Penulisan
kegiatan ini dilakukan untuk mengungkap bentuk permasalahan yang dialami oleh siswa, sehingga siswa sulit untuk memahami materi pelajaran. Jika permasalahan yang dialami oleh siswa telah terungkap, maka dapat dilakukan suatu tindak lanjut untuk meminimalisir permasalahan yang terungkap tersebut. dan upaya pengajaran perbaikan dapat dilakukan terhadap siswa yang kurang memahami materi pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya.
Dari penulisan laporan ini dapat dapt dilihat gambaran tentang sisiwa yang mengalami sulitnya untuk memahami materi pelajaran tertentu, dan masalah dimiliki siswa yang menghalangi atau mengganggu kegiatan belajar siswa, baik itu masalah yang datang dari dalam diri siswa maupun masalah yang datang dari luar diri siswa itu sendiri.
Data-data yang terungkap tentang siswa ini dapat digunakan bagi guru yang membimbing siswa sebagai bahan pertimbangan dalam proses pembelajaran yang dilakukan pada siswa, dan dapat juga digunakan sebagai gambaran yang dap[at dugunakan dalam kegiatan pembelajaran lainnya meski terhadapa siswa yang berbeda. Karena dalam laporan ini juga digambarkan secara umum bentuk gejala masalah-masalah yang sering dialami siswa dalam belajar, sehingga dapat dipelajari dan dipahami agar pengembangan diri dan potensi siswa dapat tercapai secara maksimal dan pada akhirnya dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah diprogramkan sekolah dan pemerintah sebelumnya.
C. Ruang Lingkup
Kegiatan observari yang penulis lakukan ini mencakupi upaya mengidentifikasi siswa yang mengalamio masalah disalah satu kelas pada sekolah dasar negri 04 olo nanggalo kelas 6 (enam). Proses penemuan siswa yang mengalami masalah ini dengan menganalisa nilai-nilai hasil belajar siswa dalam kelas, dari daftar nilai kelas siswa ini diperoleh gambaran siswa yang membutuhkan bantuan.
Setelah ditemukan siswa yang membutuhkan bantuan dilakukan tes diagnostik untuk mellihat gambaran masalah yang dialami siswa pada bidang-bidang tertentu, kemudian dilanjutkan dengan pengajaran perbaikan terhadap materi pelajaran yang belum dikuasai oleh siswa.
Untuk mengungkap masalah yang menjadi faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami oleh siswa melalui berbagai bantuan yang dapat diberikan kepada siswa yang mengalami masalah dalam belajar tersebut. kemudian mengevaluasi hasil kegiatan yang telah dilakukan dan pelayanan yang diberikan kepada siswa.
BAB II
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
A. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Menurut Webster diagnosis yaitu proses menentukan hakekat daripada kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta untuk menentukan masalahnya. Sedangkan menurut Harriman dalam bukunyaHandbook of Psychological Term, diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari simptom-simptomnya. Dapat disimpulkan bahwa diagnosis adalah suatu cara menganalisis suatu kelainan dengan mengamati gejala-gejala yang nampak dan mencari factor penyebab munculnya kelainan tersebut.
Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada anak ditandai adanya prestasi atau hasil belajar yang rendah serta berada di bawah norma yang ditetapkan.
Blassic dan Jones mengatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yan diharapkan dengan prestasi akademik yang Nampak sekarang (prestasi aktual). Anak yang mengalami kesulitan belajar itu adalah anak yang mempunyai intelegensi normal, tapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar. Kesulitan atau hambatan dalam kegiatan belajar bersifat fisiologis, psikologis, dan sosial.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dianosis kesulitan belajar merupakan suatu kegiatan yang terstruktur dan sistematis untuk menemukan masalah-masalah yang menyebabkan siswa sulit untuk belajar, dan memprediksi latar belakang yang menyebabkan timbulnya masalah siswa tersebut serta merencanakan dan melakukan suatu kegiatan bantuan terhadap siswa yang bermasalah agar pengembangan potensi diri siswa dapat dicapai secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan.
B. Gejala Dan Ciri Kesulitan Belajar
1. Ciri-ciri siswa yang bermasalah dalam belajar
Menurut Warkitri dkk. (1990 : 8.5 – 8.6) dalam salah satu blog di internet, Siswa yang mengalami kesulitan belajar biasanya menunjukkan gejala sebagai berikut.
1. Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelasnya.
2. Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah disbanding sebelumnya.
3. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
4. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
5. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya bersikap acuh tak acuh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang baik tetapi tidak menyesal, dan sebagainya.
6. Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dan sebagainya.
7. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, atau dihindari oleh temannya.
2. Masalah siswa dalam belajar
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1) Learning Disorder
Kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2) Learning Disfunction
Merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3) Under Achiever
Siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4) Slow Learner
Lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5) Learning Disabilities
Ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Bila diamati, ada sejumlah siswa yang mendapat kesulitan dalam mencapai hasil belajar secara tuntas dengan variasi dua kelompok besar. Kelompok pertama merupakan sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan, akan tetapi sudah hampir mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam menetapkan penguasaan bagian-bagian yang sulit dari seluruh bahan yang harus dipelajari.
Kelompok yang lain, adalah sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai. Bisa pula ketuntasan belajar tak bisa dicapai karena proses belajar yang sudah ditempuh tidak sesuai dengan karakteristik murid yang bersangkutan. Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.
6. Latar Belakang Timbulnya Kesulitan Belajar
Masalah belajar yang dialami oleh siswa dapat muncul dari faktor internal dan faktoreksternal yang dialami oleh siswa,masalah-masalah tersebut berupa kondisi lingkungan fisik dan situasi emosional siswa. Lingkungan fisik berupa keadaan disekitar proses pembelajaran yang didikuti siswa yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap proses yang diikuti siswas dan situasi emosional siswa yang berkembang dalam diri siswa akan sangat mempengaruhi kesiapan siswa dalam menghadapi materi pelajaran.
Permasalahan yang dialami oleh siswa dalam belajar dapat dikelompokan kedalam dua bentuk permasalahan yaitu masalh internal dan masalah eksternal. Masalah internal merupakan masalah yang berkaitan dengan keadaan dan kondisi dari dirisiswa itu sendiri sedangkan masalah eksternal merupakan masalah yang berasala dari luar dir siswa namunmempengaruhi kondisi belajar siswa.
1. Masalah internal
a. Faktor kejiwaan dari siswa
1. Minat siswa terhadap mata pelajaran
2. Motiv dan motivasi belajar siswa terutama dari dalm diri siswa
3. Rasa percaya diriyang dimiliki siswa yang kurang
4. Disiplin diri siswa yang kurang
5. Integritas diri siswa yang kurang
6. Mengalami konflik psikis dari dalam diri siswa
b. Faktor kejasmanian siswa
1. Keadaan fisik siswa yang lemah sehingga mudah terserang penyakit
2. Adanya penyakit diderita siswa dan sulit disembuhkan
3. Adanya gangguan dari fungsu indera
4. Kelelahan fisik
2. Masalah eksternal
a. Faktor instrumental
1. Kemampuan guru dalam memberian materi belajar kepada siswa
2. Kurikulum yang kurang sesuai dengan kemampuan siswa
3. Program belajar dan pembelajaran yang disusun tidak sesuai dan kurang efektif
4. Fasilitas belajar yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa
b. Faktor lingkungan
1. Adanya masalah dalam keluarga yang mengganggu kegiatan belajar siswa
2. Lingkungan sosial sekolah yan g tidak kondusif
3. Lingkungan bermain yang tidak mendudkung
4. Kondisilingkungan sekolah yang tidak mendukunng
7. Tujuan Pelaksanaan Kegiatan Diagbosis Kesulitan Belajar
Kegiatan diagnosis kesulitan belajar siswa tidak hanya semata-mata untuk mengungkap dan melihat kesulitan serta masalah yang dialami oleh siswa, melainkan juga diiringi dengan kegiatan tindak lanjut berupa bantuan-bantuan yang dapat mengurangi masalah yang dialami oleh siswa selain dari pada pengajaran perbaikan seperti layanan-layanan yang sesuai dengan jenis permasalahan dan kebutuhan siswa atau peserta didik.
Jadi tujuan akhir dari kegiatan diagnosis kesulitan belajar yang dilakukan terhadap siswa ini adalah pemcapaian perkembangan yang maksimal dari peserta didik itu sendiri, peran daridiagnosisi kesulitan belajar tersebut sebagai berikut:
Selain dari bermanfaat bagi siswa, kegiatan diagnosis kesulitan belajar juga bermanfaat bagi guru yang mengajar, dari hasil tes diagnosis guru akan mendapat gambaran tentanng siswa yang bermasalah, sehingga guru dapat membuat suatu perencanaan yang apat manunjang penuntasan masalah yang dialami oleh para siswa khususnya siswa yang membutuhkan bantuan dan penanganan yang lebih karena keterbatasan yang dimilikinya baik itu dari segi fisik dan dari segi psikis. Dan pada akhirnya pencapaian program pendidikan disekolah dapat dicapai secara merata dengan terpenuhinya kebutuhan pelayanan pembelajaran semua siswa secara maksimal dan merata.
8. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Yang Dialami Sisiwa
Upaya mengatasi masalah pada siswa yaitu dimulai dengan memperkirakan kemungkinan bantuan apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh siswa tertentu, dan dimana pertolongan itu dapat diberikan. Perlu dianalisis pula siapa yang dapat memberikan pertolongan dan bantuan, bagaimana cara menolong siswa yang efektif, dan siapa saja yang harus dilibatkan dalam proses konseling. Dalam proses pemberian bantuan, diperlukan bimbingan yang intensif dan
berkelanjutan agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan pribadinya dan lingkungannya.
Kemampuan yang Harus Dimiliki Konselor Berkait dengan perannya sebagai seorang konselor, tiap individu konselor harus memiliki kemampuan yang profesional yaitu mampu melakukan langkah-langkah :
berkelanjutan agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan pribadinya dan lingkungannya.
Kemampuan yang Harus Dimiliki Konselor Berkait dengan perannya sebagai seorang konselor, tiap individu konselor harus memiliki kemampuan yang profesional yaitu mampu melakukan langkah-langkah :
1. Mengumpulkan data tentang siswa
2. .Mengamati tingkah laku siswa
3. Mengenal siswa yang memerlukan bantuan khusus
4. Mengadakan komunukasi dengan orang tua siswa untuk memperoleh keterangan dalam pendidikan anak.
5. Bekerjasama dengan masyarakat dan lembaga yang terkait untuk membantu memecahkan masalah siswa
6. Membuat catatan pribadi siswa
7. Menyelenggarakan bimbingan kelompok ataupun individual
8. Bekerjasama dengan konselor yang lain dalam menyusun program bimbingan sekolah
9. meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah
Bagi siswa-siswa yang bermasalah pada mata pelajaran tertenntu dapat dilakukan pengajaran perbaikan dengan dikhususkan pada bagian materi yang belum dikuasai oleh siswa pada bidang studi yang berkaitan. Perbaikan yang dilakukan trerhadap siswa ini harus melalui prosedur yang telah direncana sebelumnya agar kegiatan ini dapat berjalan sesuaia dengan rencana yang diharapkan.. waktu penyelenggaraan pengajaranpun hendaknya dilakukan pada waktu dan kondisi yang benar-benar mendukung bagi siswa untuk mencerna materi pelajaran.
Layanan Bimbingan yang bisa diberikan kepada siswa tergantung pada bentuk prmasalahan yang dialami oleh siswa dan sejauh mana masalah yang dialami siswa tersebut berpengaruh terhadap kahidupan efektif sehari-harinya, bila permasalahan yang dialami siswa hanya sekedar kurang terampila pada kegiatan belajr tertentu maka layanan yang diberikan dapat berupa layanan penguasaan konten tentang keterampilan yang tidak dikuasai siswa yang bersangkutan namum jika masalah yang dialami siswa berkaitan dengan kondidsi bersama didalam kelas dapat diberikan layanan informasi klasikal dalam kelas.
Jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang dapat digunakan untuk membantu siswa adalah semua jenis layanan hanya saja disesuaikan kondisi dan keadaan yang berkembang, layanan konseling tersebutadalah sembilan layanan konseling,
Sembilan layana Bimbingan dan Konseling menurut Prayitno :
1. layanan orientasi
2. layanan informasi
3. layanan penempatan dan penyaluran
4. layanan bimbingan kelompok
5. layanan konseling kelompok
6. Layanan penguasaan konten
7. Konseling individual
8. Layanan konsultasi
9. Layanan mediasi
Dan ditunjang dengan enam kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling, enam kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling menurut Prayitno :
1. Aplikasi Instrumentasi
2. Himpunan Data
3. Kunjungan rumah
4. Alih tangan kasus
5. Konferensi kasus, dan
6. Tampilan kepustakaan
BAB III
PELAKSANAAN DIAGNOSISI KESULITAN BELAJAR
A. Identifikasi Siswa
Kegiatan diagnosis yang dilakukan ditujukan tehadap siswa kelas VI A Sekolah Dasar negeri 04 Olo Nanggalo Gunung Pangilun Padang, dari kegiatan awal yang dilakukan diperoleh nilai rata-rata kelas dari hasil ujian MID semester ganjil, nilai rata-rata yang diperoleh masing-masing siswa tergambar dalam grafik nilai rata-rata kelas berikut:

Gambar 1. Grafik nilai rata-rata kelas
Dari grafik nilai rata-rata kelas VI A diatas, maka ditemukan dua orang siswa yang mempunyai nilai rata-rata yang relatif rendah dilihat dari posisi yang diperoleh siswa secara keseluruhan dalam kelas VI A tersebut, yang yang bersangkutan adalah siswa pada nomor urut 11 dan 15, dimana dua orang siswa ini menempati posisi yang dibawah dibanding dengan teman-temannya yang lain.
Identitas Siswa Yang Teridentifikasi
1. Siswa Pertama
a. Nama : FPA
b. Panggilan : F
c. Jenis kelamin : laki-laki
d. Tempat / tanggallahir : Padang / 28 Juni 2000
e. Berat badan : 28 Kg
f. Alamat : Jln. Gajah Mada RT 1 RW 2
g. Agama : Islam
h. Hobi / citra-cita : Olah Raga / TNI
i. Anak ke : 1(satu)
j. Jumlah saudara : 2 (dua)
k. Keadaan keluarga
1) Pendidikan orang tua : SMA (Sekolah Menengah Atas)
2) Pekerjaan orang tua : Wiraswasta
3) Ekonomi keluarga : Cukup
2. Siswa Kedua
a. Nama : T P S
b. Panggilan : T
c. Jenis kelamin : laki-laki
d. Tempat / tanggallahir : Padang / 21 September 1999
e. Berat badan : 24 Kg
f. Alamat : Jln. Alai timur
g. Agama : Islam
h. Hobi / cita-cita : Kesenian / Dokter
i. Anak ke : 3 (tiga)
j. Jumlah saudara : 4 (empat)
k. Keadaan keluarga
1) Pendidikan orang tua : S1 (Strata 1)
2) Pekerjaan orang tua : Guru
3) Ekonomi keluarga : Baik
B. Melokalisasi Letak Dan Jenis Kesulitan Belajar Siswa
Jenis kesulitan belajar yang dialami siswa dilihat dari analisis berbagai data yang dikukmpulkan adalah
a) Dilihata Dari Nilai Hasil Belajar Yang Diperoleh Oleh Siswa
1. Siswa FPA
Analisis yang dilakukan terhadap beberapa mata pelajaran yaitu data hasil belaja ujian MID semester ganjil yang telah diselenggarakan sekolah pada pertengahan semester ganjil kemaren. Mata pelajaran yang dianalisis adalah mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, PKN dan Bahasa indonesia.
Dari analisis yang telah dilakukan maka dapat dilihat gambaran masalah yang dialami oleh siswa FPA ini, dimana siswa ini bermasalah pada mata pelajaran matematika, IPS,,IPA. PKN Dan Bahasa Indonesia. Dari mata pelajaran yang teridentifikasi, siswa FTA mengalami kesulitanyang lebih dalam dibanding dengan mata pelajaran yang lainnya, jadi pada pelajaaran matematika ini siswa FTA perlu perhatian yang lebih khusus agar pemahaman terhadap materi pelajaran dapat dicapa lebih maksimal.
Permasalahan yang dialami siswa FTA tentang ketiga mata pelajaran tersebut adalah
1) Mata pelajaran Matematika
pada pelajaran matematika siswa FTA belum menguasai materi tentang penambahan pengurangan, faktor bilangann dan materi tentang banguan serta volume bangunan ruangan.
Pada materi inilah FTA butuh bimbingan dari guru secara mendalam lagi agar dapat memenuhi ketuntasan.
2) Mata pelajaran IPA
Dimata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam FTA butuh bimbingan pada materi tentang perkembang biakakn dan benda padat.
3) Mata pelajaran IPS
Pada mata pelajaran Ilmu Pengetahua Sosial siswa FTA ini butuh bimbingan lagi pada materi tentang peta dan wilayah.
2. Siswa TPS
Tes diagnosisi yang dilakukan terhadap siswa TPS juga berkaitan dengan tiga mata pelajaran yang telah diajarai pada kelas yang bersangkutan, karena dilihat dari grafik rangking penilaian masing-masing mata pelajaran, siswa TPS belum memenuhi sandar ketuntasan minimum yang telah ditetapkan.
1) Mata pelajaran Matematika
Dari hasil tes diagnosis pada mata pelajaran matematika yang telah dilakukan, siswa TPS hanya mampu menjawab 2 soal yang benarsoal yang mampu dijawab dengan benar oleh siswa TPS ini adalah pada topik mengenai penambahan dan pengurangan dan topik mengenai perbandingan bilangan. Sedangkan tujuh soal laonnya belum mampu dijawab oleh TPS ini. Yang belum dikuasai oleh TPS ini adalah topik tentang pangkat-akar bilangan bulat dan topik tentang bidang bangunan serta volume ruangan.
Jadi dari ketiga topik bahasan dalam pelajaran matematika yang telah dipelajari oleh siswa TPS, maka siswa ini membutuhkan bimbingan dalam mempelajari kembali topik yang belum dipahami tersebut.
2) Mata pelajaran IPA
FTA belum mampu menjawab tiga pertanyaan dari delapan pertanyaantes yang diberikan, yaitu tentang makhluk hidup dan sistem dalam tubuh makhluk hidup. Sedangkan bagian materi yang belum dikuasai oleh TPS pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam ini adalah materi mengenai benda-benda padat yang berkaitan dengan konsep fisika. Jadi pada bagian materi yang belum dikuasai inilah TPS perlu bimbingan agar dapat memahami materi ini labih dalam lagi.
3) Mata pelajaran IPS
Dalam mata pelajaran ilmi pengetahua sosialsiswa TPS belum mengasai materi tentang kependudukan dan tentang peta dan wilayah. Jadi dari materi ini juga harus dibahas kembali agar siswa TPS dapat memenuhi standar minimal pengasaan materi pelajaran.
Sari hasil tes diagnosis yang dilakukan pada tiga bidang studi atau mata pelajaran yang telah dilakukan berdasarkan masalah yang tergambar dari hasil analisis hasil ujian tengah semester di sekolah, maka dapat dilihat gambaran masalah belajr atau materi pelajaran yang belum dukuasai oleh dua orang siswa yang diindikasikan ada masalah dalam belajar. Secara umum masalah yang dialami oleh dua orang siswa ini pada mata pelajaran tidak jauh berbeda satu dengan yang lainya.
b) Dilihat Dari Berbagai Instrumen Yang Diadakan
a. Gambaran masalah dari siswa FTA
1) Berdasarkan hasil soiometri
Berdasarkan sosiometri yanmng telah dilakukan dalam kelas siswa yang bersangkutan yaitu kelas VIA, maka dapat dilihat gambaran hubungan sosial siswa dalam kelas ini yang kurang efektif dan kurang terbina dengan baik, karena banyak ditemukan siswa yang terisolir, hubungan siswa yang klik dan butuknya lagi ada didalam kelas yang menunjukan gap-gap yang dapat menimbulkan ketidak kompakan yang sangat sulit dipisahakan dan hubungan gap-gap ini ditemukan lebih dari satu.
Sedangkan siswa FTA ini sendiri tergambar dari sosiogram bahwa siswa ini termasuk kedalam anak yang terisolir dalam interaksi dalam kelasnya. Dari hasil pengolahan sosiogram dapay dilihat tidak ada teman dalam kelasnya yang memilih siswa FTA.
Jadi FTA ini termasuk siswa yang kurang digemari atau kurang disenangi temannya dalam kelasnya. Dan mungkin saja situasi seperti ini juga mendatangkan masalah bagi siswa FTA tehadap kondisi belajarnya, mingkinsaja siswa ini merasa dijauhi dan minder atau bersikap suka mencari perhatian dari teman-temannya sehingga perhatiannya terhadap materi pelajaran kurang terkonsentrasikan secara maksimal.
2) Berdasarkan hasil AUM Umum dan AUM PTSDL SD
Berdasarkan hasil AUM PTSDL SD yang telah dilakukan maka dapat diungkap masalah yang dialami siswa FTA ini sehingga ia mengalami masalah dalam belajara antara lain
a) Kebiasaan FTA yang tidak mengulangi pelajaran sebelum memulai maateri pelajaran berikutnya, yang mungkin saja materi pelajaran sebelumnya berkaitan langsung dengan pelajaran atau materi berikutnya , sehingga siswa FTA ini kurang siap untuk mengikuti palajaran berikutnya.
b) Siswa FTA ini kurang bisa mengatur waktu dalam mengerjakan tugas atau belajar dirumah. Sehingga tidak dapat belajar dirumah dengan efekti. Dan mingkinsaja kurangnya pengawasan dari prang tua dirumah sehingga siswa tidak biasa mengatur waktu belajarnya dan tiodak mendap[at bimbingan dari orang tua atau anggota keluarga lainnyadalam belajar dirumah sehingga kegiatan yang dilakukan kurang ada mannfaatnya terhadap proses belajar yang dilakukan siswa ini.
c) Siswa FTA ini kurang bisa konsentrasi dalam belajar dan mudah terganggu oleh hal-hal lain diluar konteks belajar sehingga perhatian siswa ini sering terarahkan padaa situasi lain yang mengganggunya tersebut, seperti keadaan teman-teman diluar kelas yang sedang bemain sering menarik perhatian FTA untuk mengikuti pengaruh tersebut. atau keadaan lingkungan sekolah yang memang tidak kondusif untuk belajar karena siswa yang sedang berada diluar kelas berkeliaran bebas sehingga mengganggu konsentrasi siswa yang sedang belajar dikelas
d) Siswa FTA ini kurang terampil dalam menulis dan tidak bisa memahami secara dalam mengenai petunjuk dari buku sumbuer yang digunakan, sehingga proses belajar yang dilakukan FTA menjadi tidak afektif karena keadaan ini.
e) Kondisi fsikologis siswa yang tidak seimbing karena adanya gangguan pemikiran tentang hal-hal lain pada saat proses belajar yang juga membuyarkan konsentrasi siswa dalam belajar, misalnya siswa ini berfikiran kalau ia adalah siswa yang bodoh sehingga ia selalua memikirkan nilai yang tidak baik akan selalu diperolehhnya dan pada alhirnya menyebabkan siswa ini putus asa dan kkurang bersemangat dalam proses belajar.
f) Siwa FTA ini kurang percaya diridengan kem,ampuan yang dimilikinya dan kurang termotovasi dalam belajar sehingga seolah-olah baginya belajr adalah hal yang sangat tidak penmting
3) Berdasarkan hasil angket
Dari angket yang diberikan, tidak dapat mengungkap masalah yang dialami siswa secara mendalam, hal ini mungkin karena dalam pengisian angket ini siswa tidak mengisis angket dengan jujur maka masalah siswa sult tergambar dari angket yang diberikan, gambaran umum masalah yang diperoleh dari angket hanya berkaitan dengan siswa FTA ini hanya tergambar bahwa dalam kondisi belajarnya siswa ini kurang serius dalam mengikuti proses belajar dan lebih senang bermain dengan teman-temannya, mungkin saja siswa ini siswa yang sebenarnya aktif, namun karena ada hal atau situasi yang mungkin tidak sesuai dengan potensisnya sehingga menimbulkan sikap yang sibuk pada hal yang kurang tepat.
4) Berdasarkan hasil wawancar dan observasi
1. Wawancara dengan guru
Dari hasil wawancara dengan guru kelas siswa, diperoleh hasil yang menggambarkan bahwa siswa ini merupakan siswa yang dikategorikan siswa yang kurang mampu dalam belajar ditambah lagi dengan sikap siswa yang kurang disiplin dalam belajar. kondisi belajar siswa ini sering meninggalkan ruangan belajar untuk hal yang tidak begitu penting.
2. Wawancara dengan siswa
Sepertinya siswa ini memiliki tipe anak dengan tipe belajr kinestetik, hal ini terlihat saat diajak berbicara dalam wawancara, gerak tubuh anak ini terlihat lincah dan selalu gelisah serta pandangan anak ini juga tidak menentu seolah-olah mengisyaratkan bahwa anak ini bertipekal anak kinesteti. Dan ditambah lagi dengan hasil pengamatan terbukti kalau FTA ini sering pergi meninggalkan ruangan atau kelas pada jam pelajaran sedang berlangsung. Dan lebih senang bermain aktif dengan teman-temannya diluar kelas.
3. Wawancara dengan teman siswa
Wawancara yang dilakukan dengan teman siswa ini diperoleh informasi bahwa FTA ini memang anak yang kurang pintar dalam belajar, temannya mengatakan kalau FTA ini sering menyontek dalam mengerjakan tugas terutam ketika ditinggal oleh guru, sering pergi keluar masuk ruangan pada jam pelajaran.
b. Gambaran masalah dari siswa TPS
1) Berdasarkan hasil soiometri
Dari sosiometri yang telah dilakukan, dapat dilihat gambaran posisi siwa TPS ini dalam kelasnya, dimana dari gambaran sosiometri siswa ini juga merupakan siswa yang terisolir karena tidak ada teman dalam kelasnya yang memilihnya sebagai teman dari hasil sosiometri. Dan mungkin juga karena masalah ini jugalah tps ini juga sulit dalam memahami materi pelajaran, sehingga mengalami masalah dalam menghadapi proses balajar di dalam kelas.
2) Berdasarkan hasil AUM Umum dan AUM PTSDL SD
Permasalah yang ada pada siswa TPS berdasarkan AUM yang telah diberikan, maka dapat dilihat masalah sebagai berikut
a) TPS ini jarang mengulangi pelajaran yang telah diajari oleh guru di rumah sehingga pemahaman yang diperoleh siswa ini hanya dangkal sekali dan bahkan tidak bertahan lama dalam memorinya. Sehingga memicu masalah dimana siswa ini jarang memahami pelajaran yang telah dipelajarinya.
b) Siswa ini juga jarang mengerjakan tugas rumah yang telah diberikan guru, kalaupun ada tugas yang dikerjakan tidak maksimal dari kemampuanya sendiri.
c) Kapasitas siswa yang sulit dalam memahami materi pelajaran secara mendalam,
d) Soiswa tidak memiliki waktu dalam belajr mungkin karena faktor tertentu atau kyrang pengawasan dari orang tua dirumah.
e) Siswa ini beranggapan pekerjaan rumah kurang ada manfaatnya bagi proses belajarnya, dan atua karena guru kurang mengontrol pekerjaan rumah siswa dengan ketat, sehingga siswa menganggap pekerjaan rumah sebagai hal yang tidak penting.
f) Siswa ini kurang berani teruka dalam proses belajr terutama terhadap guru yang membimbngnya, sehingga materi yang kurang dipahami terlewatkan begitu saja.
g) Berdasarkan AUM siswa ini juga terganggu karena masalah keuangan sekolahnya. Ia menjadi kurang maksimal belajar karena kondisi yang dijalaninya.
h) Siswa ini juga kurang antusia dalm berusaha menguasai materi pelajara, dan mudah puas dengan apa yang btelah diperolehnya meskipun hal itu hanya sedikit dari hal yang seharusnya dikuasainya.
i) Kebiasaan belajr dan ulangan siswa in adalah mencontek, sehingga siswa tidak pernah mengetahui seberapa besar kemampuannya yang sebenarnya.
j) Siswa ini juga kurang menyenangi guru yang mengajarnya dan menghambat kelacaran belajarnya dan apapun yang dipelajrinya tidak banyak yang difahami nya.
3) Berdasarkan hasil angket
Hasil angket yang telah diberikan pada siswa TPS ini dapat diperoleh gambaran bahwa siswa ini anak yang memiliki kebiasaan belajar yang kurang baik, jarang mengulangi pelajaran yang telah diajari guru dirimah. TPS ini anak yang kurang disiplin dalam masalah waktu belajar terutam dalam bbelajar dirumahmungklin karena kurangnya pengawasan dari orang tua siswa ini dengan kondisi belajar anaknya dirumah.
4) Berdasarkan hasil wawancar
Secara umum hasil wawancara tentang masalah belajr anak ini baik dengan guru, teman dan siswa itu sendiri serta penmgamatan yang telah dilakukan, maka dapat dilihat gambaran bahwa TPS ini juga anak yang cenderung kurang antusias dalam belajar malahan juga sering bermain dijam pelajran dan sulit untuk diberi pemahaman untuk mengikuti proses belajar dengan baik.
C. Melokalisasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Sisiwa
Kemungkinan penyebab masalah yang dialami siswa yang teridentifikasi ini karena berbagai faktor yang menimbulkan masalah tersebut
1. Siswa FTA
Masalah belajar yang dialami siswa siswa FTA ini disebabkan oleh berbagai faktor baik itu dari dalam diri siswa itu sendiri maupun yang berasal dari luar diri siswa sendiri.
Masalah yang berasal dari dalam diri siswa berupa masalah yang berkitan dengan motivasi dan minat belajar siswa yang sangat rendah. Terutama terhadap mata pelajaran yang memerlukan hitungan seperti mata pelajaran matematika.
Masalah yang berasala dari luar diri siswa adalah masalah yang berkaitan dengan sarana belajar yang dimilki siswa yang kurang memenuhi. Dan perhatian dari orang tua dan lingkungan yang kurang mendukung sehingga menurunkan keantusiasan siswa untuk mengikuti pelajaran.
Mengenai lingkungan disekolah sebenarnya sudah memadai hanya saja situasi belajar yang kurang kondusif karena lingkungan bermain siswa yang sulit dikendalikan sehingga mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar.
2. Siswa TPS
Siswa TPS ini mengalami masalah dalam belajar juga disebabkan karena siswa ini juga tidak tinggal dengan orang tua kandungnya, ia hanya tinggal dengan orang tua angkatnya karena masalah orang tua kandung menitipkan TPS ini pada bibnya semenjak is masih kecil dengan istilah kasarnya TPS ini anak diluar nikah, jadi karena situasi ini dirumah ia pun sering ditinggal dan kurang perhatian karena kesibukan dari orang tuanya yang sekarang ini. Orang tua angkat TPS ini bekerja berjualan di pasar setiap harinya sehingga kurang waktu untuk mengawasi TPS ini sehari-harinya di rumah.
Mengenai situasibelajar disekolah siswa ini tidak jauh beda dengan siswa FTA karena mereka berdua sama-sama tergolong pada siswa yang sulit untuk dikendalikan, berdasarkan keterangan dari gurun.
Secara garis besar kedua siswa yang teridentifikasi mngalami masalah dalam belajar ini dalam adalah siswa yang memang agak lemah dalam penguasaan materi belajarnya. Saat belajar di kelas siswa ini sering bermain-main dalam menghadapi situasi belajar dan zdalam mengerjakan tugas di kelas keduanya sering mencontek pada temannya. Dalam situasi belajar di sekolah kaduanya sering bermain-main keluar kelas pada jam pelajaran ketika ditinggal oleh guru sebentar.
Selain karena rendahnya minat belajar yang dimiliki kedua siswa ini, keduanya juga mudah terpengaruh oleh situasi lingkungan bermain dilingkungan belajar yang mengganggunya, hal tersebut terbukti ketika kami melakukan tes diagnosis dan pengajaran perbaikan terhadapkedua siswa siswa ini dan berdampingan dengan siswa lain yang juga didiagnosis oleh observer yang lain yang juga berjumlah dua orang. keempat anak ini diberi pengajara perbaikan secara bersamaan dengan satu orang observer membimbing dua orang siswa secara sekaligus. Pengajaran perbaikan yang diberikan lebih berbentuk pelajaran kelompok dengan diawasi oleh satu orang yang menjadi pembimbing yaitu observer.
D. Menetapkan Kemungkinan Bantuan Yang Diberikan
Masalah yang dialami oleh siswa yang berhasil didiagnosa dan diidetifikasi dari berbagai innstumen dan tes diagnosis yang telah dilakukan serta telah tergambar bentuk masalah yang dialami oleh siswa ini. Bantuan yang telah diberikan adalah adalah pengajaran perbaikan terhadsap materi pelajaran yang belum dikuasai siswa berdassarkan hasil tes diagnosis terhadap tiga mata pelajaran yang dilakukandiagnosa. Bantuan yang diberikan berupa pengajaran ulangan terhadap materi yang belum dikuasai oleh siswa yang berssangkutan. Pengajaran ulangan dilakukan pada jam-jam diluar jam pelajaran misalnya pada jam istirahat sekolah atau sepulang sekolah, pada waktu ini siswa diajak untuk mengikuti kegiatan pambahasan secara tutor yang langsung dilakukan terhadap dua orang siswa yang menjadi binaan dalm kegiatan ini. Teknik pembelajaran perbaikan ini dengan memberikan soal yangberkaitan dengan materi yang belum dikuasai siswa, kemudian siswa dibimbing mengerjakan soal hingga siswa memahami materi pelajaran tersebut. Setiap materi palajaran dan materi yang tidak dikuasai siswa diujikembali dengan soal yang sejenis tetapi dengan bentuk pertanyaan yang berbeda. Hasil pengujian kembali dianalisis atau dinilai pemahamann yang telah didapat siwa atau perubahan yang terjadi pada siswa setelah dilakukan perbaikan. Hasilnya akan dilakukan pengkajian lebih mendalam dan diupayakan bentuk tindak lanjut jika hal tersebut memingkinkan dibutuhkan.
Terkait dengan permasalahan siswa yang membutuuhkan pelayanan khusus yang terungkap dari berbagai instrumen yang telah diadakan seperti masalah kurangnya motivasi belajar siswa, kabiasaan belajar siswa yang kurang baik, kedisiplinan siswa yang kuarang terutama dalam belajar dan masalah-masalah lainnya, maka direncanakan bantuan berupa layanan-layanan Bimbinga dan Konseling. Layanan Bimbingan dan Konseling yang akan diadakan adalah Layanan Informasi, Layanan Penguasaan Konten dan jika dimungkinkan dan dibutuhkan dilakukan Layanan Konseling Individual dengan siswa yang bersangkutan secara langsung.
E. Pelaksanaan Bantuan
Bantuan dan layanan yang diberikan dilakukan setelah terungkapnya masaklah yang dialami siswa dari bebagai instrumen yang telah dilakukan. Bantuan pengajaran perbaikan dilakukan pada saat siswa diluar jam pelajaran, dimana setelah siswa selasai belajar dan beristirahat siswa diajak untuk melakukan pembahasan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya, kemudian siswa diajak membahas soal-soal yang berkaitan dengan materi yang belum dikuasai siwa dari materi pelajaran yang teridentifikasi bermasalah pada siswa yang bersangkutan. Setiap butir soal yang dikerjakan siswa dibantu pembahasanya pada bagian yang dirasa sulit oleh siswa hingga siswa memahami pokok materi yang dibahas tersebut.
Bantuan yang berupa layanan penguasan konten diberikan kepada siswa pada saat melakukan pengajaran perbaikan, kebiasaan siswa yang kuarang terampil dalam menulis catatan dan membuat tugas, siswa dilatih bagaimana cara menulis catatan dan tugas pada buku dengan rapi dan bersih agar catatan yang dibuat sendiri oleh siswa dapat dipahami dan dapat dimanfaat siswa dengan mudah pada waktu-waktu yang dibutuhkan. Pemberian bantuan yang berkaitan dengan layanan Bimbingan dan Konseling secara khusus dan terprogram seperti layanan Informasi secara klasikal belum dilakukan, karena penuntasan masalah yang dialami siswa sepertinya hanya perlu dorongan dan dukungan serta perhatian yang lebih dari orang-orang terdekat siswa agar siswa lebih termotivasi untuk belajr labih baik lagi kedepannya.
F. Evaluasi Dan Tindak Lanjut
Dari kegiatan batuan yang telah diberikan berupa pengajaran perbaikan yang telah diberikan nampaknya kurang mendapatkan hasil yang memuaskan dimana pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang diberikan perbaikan tidak banyak diperoleh perkembangan yang baik, masih banyak bagian materi yang belum dipahami oleh siswa.
Kedua siswa yang menjadi binaan dalam kegiatan perbaikan ini sama-sama kurang menunjukan perkembangan yang maksimal, mungkin dalam memberikan perbaikan ini kurang efektif waktu pelaksanaanya, selain karena waktu yang terbatas pada saat pengadaanya juga pemberian pengajaran perbaikan ini juga tidak dalam perencanaan yang matang sehingga kurang meksimal dalam pembimbingan siswa yang bersangkutan. Waktu pengajaran perbaikan ini sulit dilakukan karena siswa yang menjadi binaan ini sulit untuk meminta kesediaan sekolah dalam memberikan izin mengingat anak ini siswa kelas enam dan sekarang sedang terfokus pada persiapan mengikuti ujian akhir kelulusan. Dan dari pembimbingpun juga kesulitan dalam mencari jadwal yang pas untuk melakukan pengajaran perbaikan pada siswa yang akan dibimbing, sehingga pengajaran perbaikan yang dilakukan hanya dalam waktu dan saat yang kuran kondusif dan pada akhirnya hasilnyapun juga tidak memuaskan.
Rencana tindak lanjut yang akan dilakukan adalah mengalih tangankan siswa pada guru yang bertangging jawab dengan segala bentuk keterangan dan data-data serta permasalahan yang terungkap mengenai siswa, sehingga guru dapat memberikan pelayanan yang dapat menuntaskan permasalahan belajar yang dialami siswa ini agar siswa dapat berkembang dengan maksimal sesuai dengan yang seharusnya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam proses pendidikan terutama proses pendidikan formal disekolah, kegiatan diagnosis sangat penting dilakukan oleh guru atau guru pembimbing agar dapat memperlancar proses perkembingan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran. Karena kegiatan diagnosis ini dilkukan secara mendalam untuk mengkaji permasalahan yang dialami perserta didik, kemidian masalah yang terungkap juga diupayakan cara pengentasan yang tepat sesuai dengan masalah yang dialami oleh siswa.
Bila kegiatan diagnosis benar-benar dilakukan dengan semaksimal mungkin maka perkembangan siswa akan dapat dicapai secar maksimal sesuai denga kapasitas siswa yang sebenarnya. Masalah siswa yang sangat mendalam dan sulit terppecahkan dapan dituntaskan dengan kegiatan diagnosis ini, untyuk itu kegiatan diagnosis harus dilakukan secara tepat dan benar sesuai dengan kangkah-langkah yang telah ditetapkan.
B. Kesan
Dalam melakukan kegiatan dianosis ini saya mendapat pengalaman yang sangat luar biasa sekali yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya, dalam kegiatan ini saya mendapatkan pengalaman bagaimana caranya menjadu seorang guru didalam mengajar dikelas dan mendapat kesan yang sangat berharga ketika menghadapi siswa di dalam kelas. Yang biasanya saya didalam kelas sebagai siswa dan yang memperhatikan dalam kegiatan ini saya merasakan menjadi guru dan menjadi orang yang diperhatikan di dalam kelas. Dan semuanya itu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya pribadi dan juga sebagai pembelajaran berarti bagi saya kedepannya, terlebih ketika saya dengan rekan saya diminta membina kelas pada saat guru kelas ada rapat. Disini saya merasakan bagaiman menjadi seorang guru yang memiliki satyu kelas binaan secara penuh dalam beberapa jam, sungguh pengalaman yang sangat luar biasa. Ditambah lagi siswanya juga antusias dalam menanggapi kami dalam melakukan pengawasan terhadap mereka, inilah nikmatnya jadi guru.
C. Saran
Kagiatan dianosis kesulitan belajar siswa adalah hal yang sangat menunjang pencapai pengauasaan materi belajar siswa, sedapat mungkin sekolah melakukan kegiatan ini secara mendalam lagi demi tercapainya kemajuan generasi penerus bangsa dimasa yang akan datang, karena dengan berkurangnya hal yang menghalangi proses belajr siswa berarti memperbesar kberhasilan sekolah dalam membentuk siswa-siswi yang berkompeten dan jenius nantinya.
Untuk dosen yang menjadi pembina mata kuliah Diagnosis Kesulitan Belajr ini, saya sebagai mahasiswa menyarankan agar mata kuliah ini dapat dijadikan salah satu keterampilan yang sangat wajib dikuasai calon pendidik binaannya. Karena calon pendidik inilah yang akan mengembangkan dan mnmgembangkanya nanti disekolah tempat ia bertugas nantinya. Untuk itu kedisiplinan dan pembinaan mahasiswa lebih dipertegas lagi agar mahasiswa benar-benar antusias dalam mengikuti mata kuliah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Proyitno.2004.Layanan 1 sampai dengan Layanan 9.Padang:UNP-Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan.
Belajarbkyuk.Blogspot.Com/2010/10/Pengertian-Diagnosis-Kesulitan-Belajar.Html
Muliasi.2005.Diagnosis Kesulitan Belajar Dan Pengajaran Perbaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar